Skip to Content

About: farizkurnia

Recent Posts by farizkurnia

June 14, 2020

New York– Pandemi corona yang tengah melanda ratusan negara di dunia tak menyurutkan pria ini untuk menemukan cinta. Aksi tak biasa dirinya untuk mencari pacar di tengah pandemi COVID-19 ini pun jadi viral.

Seorang pria berusia 30-an asal New York mencari pacar ‘bebas kuman’ selama pandemi coronavirus. Bukan dengan memanfaatkan aplikasi kencan online, ia telah membuat selebaran kencan di sepanjang jalur kota, termasuk di Central Park.

Pria yang diidentifikasi sebagai Brad alias SteadyMan4U@gmail.com ini menuliskan di selebarannya bahwa ia sedang mencari pacar selama pandemi virus corona dan seterusnya. Seperti dilansir NewYork Post, Brad menggambarkan dirinya sebagai pria sehat, menarik, dan bekerja dengan baik. Ia mencari pasangan monogami yang bebas dari kuman.

“Tolong Sehat, Bugar, dan Bersih,” tulisnya di selebaran.

Pria cari pacar pasang selebaran di tengah coronaPria cari pacar pasang selebaran di tengah corona Foto: dok. Ist

Brad mengungkapkan bahwa ia sedang berusaha menemukan cara untuk mencari romansa sebagai pria lajang selama krisis Covid-19, saat kontak fisik dengan orang asing tak dianjurkan.

“Saya masih jomblo ketika lockdown dimulai, dan telah bertanya-tanya bagaimana dan kapan bisa kencan,” kata Brad.

“Jarak sosial telah membuat orang-orang baru sulit bertemu, dan sekarang kita semua pakai masker, dan itu adalah situasi yang sangat tidak dapat didekati. Ini bukan waktunya untuk kencan santai, jadi aku mencari hubungan jangka panjang dan eksklusif,” jelasnya.

Brad pun menambahkan bahwa menempatkan selebarannya di jalur yang bisa digunakan untuk orang lari ini akan menjadi cara yang lebih baik untuk menarik wanita yang bersemangat tentang kebugaran, kesehatan, dan alam bebas seperti dia. “Ini jauh lebih bertarget dan langsung daripada menggunakan aplikasi kencan, yang bisa diisi dengan wanita palsu. Juga ada jauh lebih sedikit kompetisi dengan cara ini,” ujarnya Brad.

“Saya telah menerima banyak tanggapan dari wanita berkualitas tinggi dan saya berharap untuk bertemu beberapa untuk kencan berjarak enam kaki terpisah,” imbuhnya.

Nigeria Punya Cara Unik Perangi Corona dengan Musik dan Tarian

Jakarta – Nigeria adalah salah satu negara yang ikut terjangkit virus Corona. Petugas medis di negara tersebut pun terus berjuang demi kesembuhan para pasien akibat COVID-19.

Beberapa musisi profesional hingga seniman gereja diminta untuk memainkan alat musik, seperti terompet dan saksofon di tenda isolasi di Lagos, Nigeria. Musik tersebut kemudian dinikmati oleh petugas medis dan pasien.

Dilansir dari Reuters, Nigeria menggunakan cara tersebut demi membakar semangat di tengah pandemi.

“Tujuannya adalah untuk mengangkat roh-untuk memberikan penyembuhan spiritual. Itu sangat tercapai,” kata Abolaji Banjoko, salah satu musisi yang ambil bagian.


Kegiatan itu rencananya akan dirutinkan. Nigeria menyebutnya sebagai konser mingguan yang juga didukung oleh para petugas medis.

“Jika kami memiliki sesuatu yang dapat merangsang orang melawan, yang Anda tidak dapat menghitung dalam jumlah pil atau apa pun yang Anda berikan… kami harus mendorongnya,” kata Abosede, salah satu dokter di Nigeria.

Cerita Wanita Raup Uang dari Kuku Kaki Panjang Meski Tak Bisa Pakai Sepatu

Jakarta– Arinda Storm Weaver sangat jarang memotong kuku kakinya sehingga menyebabkan kuku kakinya sangat panjang. Meskipun mengaku tak bisa memakai sepatu yang tertutup atau berlari, ia bisa meraup banyak uang dari kuku kakinya yang panjang.

Bentuk kuku kaki tak biasa yang dimiliki oleh wanita yang tinggal di Colombus, Ohio ini memang mengejutkan banyak orang. Tapi, tak sedikit yang benar-benar menikmati melihat kuku kaki Arinda yang panjang dan bahkan akan membayarnya untuk video kakinya.

Seperti dilansir Mirror, Arinda bisa menghasilkan £ 11,50 atau Rp 210 ribu untuk setiap klip berdurasi 10 menit yang memperlihatkan kuku kakinya. Ia pun berbagi foto tangan dan kakinya di media sosial.

Rumah Genteng Bekas, Unik dan Menarik

KOMPAS.com – Apa ciri khas rumah Anda? Sering kali kekhasan fasad rumah menjadi daya tarik serta petunjuk untuk memudahkan menemukan sebuah rumah. Semakin unik dan menarik fasad rumah, tentunya akan semakin mudah diingat dan ditemukan. 

Seperti sebuah arsitektur rumah minimalis di Kota Bekasi yang memiliki fasad unik. SASO Architecture Studio menggunakan material genteng sebagai dekorasi pada lapisan kedua dinding bangunan. Istimewanya, gentengnya merupakan material daur ulang. Tak hanya sebagai dekorasi, rupanya pemakaian material genteng ini juga memiliki fungsi penting pada interior hunian.

Rumah Genteng menonjolkan gaya minimalis semenjak tampilan luar, karya SASO.(Architecture Studio//arsitag.com) Dulunya, pernah berdiri sebuah rumah tua di lahan rumah minimalis ini. Rumah tua tersebut tak terawat dengan material-material yang sudah rusak. Renovasi ringan tak cukup mengembalikan kondisi rumah tua. Pemugaran pun tak terelakkan lagi. Namun demikian, SASO Architecture Studio berusaha sedapat mungkin mengurangi jumlah limbah dari pemugaran rumah tua dengan memanfaatkan kembali material bekas yang ada. Salah satunya, material genteng.

Berlayar 2 Tahun, Pasangan Ini Tak Tahu Ada Ancaman Corona di Daratan

Merdeka.com – Covid-19 atau virus corona masih menjadi pandemi di berbagai negara. Sampai saat ini, segala upaya masih coba dikerahkan untuk mengatasi persebarannya. Sebagian negara sudah mulai pulih dari kondisinya, sebagian lagi justru baru mengalami masa awal infeksi.

Meski di media banjir informasi mengenai Covid-19, pasangan ini justru tidak mengetahui sama sekali adanya infeksi virus ini. Pasangan ini adalah Elena Manighetti dan Ryan Osborne. Mereka tidak mengetahui adanya virus corona lantaran tengah berlayar di laut.

Dilansir dari Liputan6.com, mereka diketahui sedang melakukan perjalanan melintasi Samudra Atlantik sejak 2017. Selama berlibur itu keluarga dan teman mereka tak membagikan kabar soal Covid-19.

Alasan mereka tak mengetahui kabar soal corona ini tentu menimbulkan pertanyaan. Bagaimana bisa di tengah banjir informasi seperti ini mereka tidak mengetahuinya.

Namun ternyata terkuat alasan dibalik hal tersebut. Sebelum berangkat, pasangan ini memang mengatakan tidak ingin diganggu selama berlibur. Akhirnya, baik pihak keluarga maupun teman tak ada yang memberitahu mereka.

Polisi India Pakai Kostum Zombi Berbentuk Virus Corona untuk Menakuti Warga di Jalan

Merdeka.com – Pihak berwenang di New Delhi, India, memakai kostum zombi berbentuk virus corona untuk menakut-nakuti orang agar tidak keluyuran.

Mengenakan helm berbentuk virus corona dengan duri-duri berwarna merah, sarung tangan, dan hazmat, polisi India berjalan seperti zombi di jalan-jalan.

Dilansir dari The Independent, Rabu (29/4), Wakil Komisioner Polisi di Dwarka, RP Meena mengatakan:

“Ketika para sukarelawan ini berada di jalan-jalan dan menilang warga dan memberikan mereka pemahaman, ini akan meninggalkan dampak visual di ingatan warga. Ini membuat orang-orang mengerti betapa bahayanya virus ini.”

Aksi ini juga memotivasi orang untuk melakukan tindakan pencegahan agar tidak terinfeksi virus.

Ini bukan pertama kalinya pihak berwenang di India menjadi berita utama terkait cara mereka menangani pandemi.

Awal bulan ini, para pejabat di negara bagian Uttar Pradesh dikecam karena menyemprot orang yang mencoba memasuki kota dengan cairan disinfektan.

Video menunjukkan para pejabat yang mengenakan APD menyemprot sekelompok orang yang berjongkok dengan larutan natrium hipoklorit – bahan utama cairan pemutih pakaian.

Mereka kemudian berbalik untuk memastikan telah menyemprot dua sisi badan sekelompok warga ini.

Sebanyak hampir 30.000 kasus Covid-19 terkonfirmasi di India dan 937 kasus kematian.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengumumkan lockdown ketat secara nasional pada 29 Maret.

Akibatnya, jutaan orang berbondong-bondong pulang kampung dari kota besar ke kota asal mereka, setelah kekurangan makanan dan kehilangan pekerjaan. [pan]

Coffin Dance Fenomenal, Ternyata Ini Sosok di Balik Grup Pemanggul Jenazah Tersebut

Merdeka.com – Beberapa waktu belakangan, meme dancing pallbearers atau coffin dancers tengah fenomenal di berbagai jejaring sosial. Keunikan ritual dan tarian para pria berjas dari Afrika ini sukses menarik perhatian para pengguna internet di berbagai belahan dunia. Satu hal yang jadi pertanyaan, siapa mereka?

Layanan dari Rumah Duka Pimpinan Benjamin Aidoo

benjamin aidoo dan para pemanggul peti jenazah pimpinannya

©Instagram.com/benjaminaidoo

Rupanya tarian peti jenazah di video yang viral di Tik Tok dan Twiter itu dilakukan oleh pemanggul peti jenazah bayaran yang dipimpin Benjamin Aidoo.

Dilansir BBC, Aidoo menjadi direktur rumah duka Ebony Funeral Home di Ghana sejak tahun 2003. Beberapa tahun terakhir, dia mulai menawarkan tambahan koreografi untuk upacara penguburan jenazah.

Koreografi Sesuai Permintaan Klien

benjamin aidoo dan para pemanggul peti jenazah pimpinannya

©Instagram.com/benjaminaidoo

“Saya memutuskan untuk menambahkan koreografi [pada ritual pemakaman], jadi jika klien mendatangi kami, kami bertanya kepada mereka, ‘Anda ingin yang serius atau yang sedikit heboh? Atau barangkali Anda mau yang pakai koreografi?’,” katanya dalam wawancara.

“Kalau mereka meminta, kami kerjakan.”

Tak Menduga Jadi Fenomenal

benjamin aidoo dan para pemanggul peti jenazah pimpinannya

©Instagram.com/benjaminaidoo

Ritual pemakaman dengan tarian memanggul peti jenazah ini bisa terwujud karena beberapa orang menginginkan upacara pemakaman yang riang untuk mengantar kepergian anggota keluarga mereka. Aidoo tak menduga kalau pekerjaan yang dia lakukan bersama anak buahnya bisa menjadi fenomena sedemikian besar.

“Saya sangat terkejut dan senang,” katanya dalam wawancara dengan JOE (20/4/2020). “Saat ini setiap negara sedang ditutup dan menjalankan lockdown, Anda menganggur di kamar… Dan saya senang orang-orang memanfaatkan pertunjukan saya, penampilan saya untuk menghibur diri.”

4 dari 4 halaman

Bakal Menyapa Para Penggemar setelah Karantina Berakhir

benjamin aidoo dan para pemanggul peti jenazah pimpinannya

©Instagram.com/benjaminaidoo

Walaupun tak menduga tarian para pemanggul peti jenazahnya bakal sepopuler itu, Aidoo juga merasa senang. Dia bahkan cukup bangga karena tiba-tiba punya banyak penggemar.

“Para penggemar saya ingin bertemu, jadi setelah karantina berakhir, saya dan tim akan datang dan melakukan pertunjukan untuk mereka.” [tsr]

Ibu Jaman Now Update PKK Pakai HP

Aplikasi digital tidak hanya diperuntukkan untuk anak sekolah atau kaum terpelajar lainnya. Tetapi, orang tua anggota PKK Kelurahan juga bermain handphone untuk memudahkan kegiatan setiap harinya. Aplikasi ini dinamakan SIM-PKK (Sistem Informasi Manajemen Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga)

“Awal dibangun karena ibu-ibu merasa kerepotan mencari data yang bisa dipercaya dan dibutuhkan. Nggak cuma di Kelurahan saja, di Kecamatan juga, kabupaten juga. Makanya kita cari solusi gimana biar cari data mudah,” ujar Lurah Tamanbaru, Abdur Rachman.

Lurah tamanbaru kemudian membicarakan idenya kepada Lembaga Pendidikan STIKOM Banyuwangi untuk diwujudkan

“Saya bicara ke teman teman lurah, siapa bilang setiap inovasi butuh uang untuk mewujudkan? buktinya ibu-ibu PKK ini tanpa uang bisa mewujudkan aplikasi. Ini belum se-Banyuwangi,” ujar pria yang kerap dipanggil Gus Dur itu.

SIM PKK berisi data warga yang ada di kelurahan. Mulai keluarga, tanggal lahir, hobi, sekolah, sampai riwayat penyakit. Semua diberdayakan kepada ibu-ibu dasa wisma untuk input. Mereka tinggal buka laptop dan bisa merubah segala catatan warga sembari beraktifitas setiap harinya.

Camat Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si. mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat ini segera diterapkan untuk semua kelurahan di Kecamatan Banyuwangi. “Di era digitalisasi seperti ini, semua bisa memanfaatkan teknologi, tidak ada tua muda semua harus bisa. Jadi kita harap dengan begini tidak ada lagi data manual, semua data kecuali yang sifatnya rahasia bisa diakses siapa saja,” pungkas Yusdi.

Malaikat, Masyarakat Lapor Kematian Langsung Dapat Akta

Pernah dengar berita pembagian bantuan tapi penerima sudah meninggal? Ada lagi formulir pemilihan tetap dibagikan kepada masyarakat yang telah meninggal. Atau ternyata bantuan yang digulirkan diterima oleh masyarakat yang sudah cukup atau bisa dibilang kaya. Semua ini terjadi karena data yang disimpan tidak teratur atau sudah usang. Data ini berpotensi mengganggu kebijakan pemerintah, karena ada subsidi atau bantuan yang tidak tepat sasaran

Dari masalah tersebut, warga Kecamatan Banyuwangi punya inovasi yang disingkat MALAIKAT, kependekan dari Masyarakat Lapor Kematian Dapat Akta. Inovasi ini mendukung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk mengeluarkan akta kematian lebih segera, serta memperbaharui data kependudukan di Sistem Informasi Administrasi Kependudukan, mengingat tujuan dan manfaatnya sangat besar bagi ahli waris.

“Untuk keluarga almarhum atau almarhumah, kalau sudah ngurus keperluan apa saja pasti ditanyakan akta, entah kelahiran atau kematian salah satu anggota. Untuk keluarga lain ini juga sangat dibutuhkan seperti data bantuan, pemerintah atau masyarakat lain yang sebenarnya bisa menerima jadi merugi,” ujar Abdur Rochman, Lurah Tamanbaru Kecamatan Banyuwangi.

Selama ini, masyarakat hanya lapor saja dan menunggu diterbitkannya akta yang kadang lama. Hal ini yang menyebabkan data menjadi rancu karena dari sistem kependudukan pusat lama untuk terhapus.

“Sekarang warga lebih cepat mengabarkan ketika ada tetangga atau keluarga yang meninggal. Ada pengumuman di masjid atau musholla langsung mereja minta fotokopi KTP dan KK, buka hp langsung input. Dari kelurahan kita langsung bantu lanjutkan,” ucap pria yang akrab dipanggil Gus Dur itu.

Selain itu, petugas juga mencari data warga yang sudah meninggal di sistem SIAK lalu dicocokkan ke laporan kematian yang masuk ke sistem. Setelah akta keluar, petugas lalu mendistribusikan Akta dari Mall Pelayanan Publik ke ahli waris.

Sementara itu, Camat Banyuwangi Yusdi Irawan, SE., M.Si., mengatakan bahwa dengan cara ini, data resmi dari pemerintah bisa lebih dipercaya.

“Insya Alloh bisa mengurangi kesalahan di dalam sistem pemerintah, mulai dari daerah sampai pusat untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Yusdi.

Tak Lagi Kumuh, Selokan Di Tamanbaru Jadi Usaha Lele

Bagi sebagian warga yang ada di perkotaan, limbah air sehari-hari bukan perkara mudah untuk mengatasi agar tidak menyebabkan bencana. Kebanyakan limbah dialirkan ke selokan yang ada di depan rumah. Masalah juga muncul bila limbah berhenti dan menimbulkan bau tak sedap.

Karena sedikit sekali tempat yang dipakai untuk mengalirkan dan menampung buangan air atau septic-tank, maka warga di Perumahan Agus Salim Residence (ASR) Tamanbaru Banyuwangi menemukan solusi. Lurah Tamanbaru, Abdur Rachman mengatakan bahwa ada salah seorang warga lantas membentuk tambak kecil untuk memelihara ikan lele

Kegiatan yang diawali di depan rumah salah satu warga tersebut membuahkan hasil. Akhirnya beberapa tetangganya ikut membudidayakan lele di depan rumah. “Jadi bau yang tidak sedap semuanya jadi hilang, apalagi bibit nyamuk, habis semua,” Ujar pria yang akrab dipanggil Gus Dur ini

Warga ASR juga akhirnya memiliki penghasilan tambahan dari hasil panen lele yang berada di tempat yang tadinya kumuh. Komoditi juga dikirim untuk memenuhi permintaan warung dan hotel

Tidak hanya bapak-bapak, para ibu di perumahan ASR juga mendapatkan kegiatan tambahan yakni mengolah hasil panen lele yang tidak terjual menjadi makanan, seperti abon lele dan makanan turunan lain dari bahan dasar lele. Kelurahan Tamanbaru juga mendatangkan ahli masak untuk mengolah lele menjadi makanan lain.

“Tidak hanya diolah penyetan atau digoreng biasa. Kulitnya juga bisa digunakan untuk keripik,” ujar Abdur Rachman

Selain bisa menambah penghasilan warga, budidaya lele di selokan bisa menjadi angan-angan semua orang di luar Kelurahan Tamanbaru. Camat Banyuwangi, Yusdi Irawan mengatakan bahwa banyak orang yang ingin meniru dan mempelajari inovasi di Tamanbaru.

“Bisa jadi jujugan orang yang ingin belajar budidaya lele di tempat yang sempit seperti Kecamatan Banyuwangi,” pungkas Yusdi.

 

Recent Comments by farizkurnia

    No comments by farizkurnia

title_goes_here